Selasa, 06 Desember 2011


BAB I
PENDAHULUAN

 Masalah kehendak mutlak dan keadilan Tuhan merupakan bidang kajian penting dalam ilmu kalam. Kedua masalah ini berkaitan erat dengan paham Jabariyah dan Qadariyah.
Paham Jabariyah menempatkan segala yang maujud ini, termasuk di dalamnya perbuatan manusia, dalam ketentuan Tuhan secara mutlak. Oleh sebab itu paham ini mengacu pada sikap fatalistik dan pre-destination. Sedangkan paham Qadariyah lebih menitikberatkan perhatiannya pada kehendak mutlak manusia ketimbang kemutlakan kekuasaan Tuhan. Menurut paham ini, kekuasaan Tuhan tidak mutlak semutlak- mutlaknya karena manusia memiliki potensi dan kapasitas untuk melakukan kehendak dan perbuatannya. Oleh karenanya paham ini mengacu pada sikap free will dan free act.
Pada gilirannya kedua masalah tersebut dikaji lebih detail oleh beberapa aliran ilmu kalam, yaitu aliran Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah. Yang disebut terakhir ini sendiri berkembang menjadi dua kelompok besar, yakni Maturidiyah Bukhara dan Maturidiyah Samarkand.
  
  
BAB II
PEMBAHASAN

  
A. KEHENDAK MUTLAK TUHAN

Masalah ini dibahas oleh aliran-aliran tersebut di atas, yang secara berurutan adalah sebagai berikut:
  1. Mu’tazilah
Aliran ini berpendapat, bahwa kekuasaan Tuhan sebenarnya tidak mutlak lagi. Karena telah dibatasi oleh kebebasan yang telah diberikan Tuhan kepada manusia dalam menentukan kekuasaan dan perbuatan. (Nasution, 1986: 119)
Oleh sebab itu dalam pandangan Mu’tazilah, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan berlaku dalam jalur hukum-hukum yang tersebar di tengah alam semesta. Itulah sebabnya kemutlakan kehendak Tuhan menjadi terbatas. (Yunan Yusuf, 1990: 74) Mereka berkeyakinan, bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. (Nasution, 1991: 105)
Dengan demikian aliran Mu’tazilah memandang, bahwa yang menciptakan perbuatan adalah manusia sendiri. Tidak ada hubungannya dengan kehendak Tuhan, bahkan Tuhan menciptakan manusia sekaligus menciptakan kemampuan dan kehendak pada diri manusia. (Makki, 1952:  26)
Mu’tazilah menguatkan pendapat mereka berdasarkan dalil aqli dan naqli. Secara aqli mereka menyatakan bahwa seandainya manusia tidak diberi potensi oleh Tuhan, maka ia tidak akan dibebani kewajiban. Sedangkan secara naqli mereka menguatkan dengan beberapa ayat Al-Quran, antara lain Q.S. Al-Kahfi, 18: 29. (Nasution, 1986:  80)
Kebebasan manusia yang diberikan Tuhan baru bermakna kalau Tuhan membatasi kekuasaan dan kehendak mutlakNya. Demikian pula keadilan Tuhan membuat Tuhan sendiri terikat pada norma‑norma keadilan yang bila dilanggar membuat Tuhan bersifat tidak adil atau dhalim. Dengan demikian dalam pandangan Mu’tazilah Tuhan tidaklah memperlakukan kehendak dan kekuasaanNya secara mutlak, tetapi sudah terbatas. (Nasution, 1986: 119)
Jadi ketidakmutlakan kehendak Tuhan itu disebabkan oleh kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia, keadilan Tuhan sendiri dan adanya kewajiban-kewajiban Tuhan kepada manusia serta adanya hukum alam atau sunnahtullah.
  1.  Asy’ariyah
Berpijak pada paham Jabariyah dan penggunaan akal yang tidak begitu besar maka Asy’ariyah berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai kehendak mutlak. Kehendak Tuhan baik berupa hidayat dan kesesatan, kenikmatan dan kesengsaraan, pahala bagi yang taat dan siksa bagi yang maksiat, perbuatan shalah wa al-ashlah, pengutusan rasul dan pengukuhannya dengan mu’jizat, semuanya itu berasal dari ketentuan Tuhan. Dialah yang menentukannya. Jika dikehendaki-Nya, ia akan terjadi. Dan jika tidak maka tidak akan terjadi. Tidak ada sesuatu yang wajib dan/atau mahal. (Makki, 1952: 7)
Dengan demikian aliran ini beranggapan, bahwa kehendak Tuhan itu adalah mutal semutlak-mutlaknya.
Dalam hal ini Asy’ariyah memperkuat dengan dua dalil, yaitu dalil aqli dan dalil naqli. Secara aqli dinyatakan bahwa perbuatan Tuhan itu berasal dari qudrat dan iradatNya secara sempurna dan teralisasi secara mutlak. Sedangkan secara naqli adalah firman Allah Q.S. Ash-haffat, 37: 96 dan Hadis Nabi. (Makki, 1952: 1)
  1. Maturidiyah Bukhara
Paham mereka tentang kehendak Tuhan dekat dengan paham Asy’ariyah. Mereka beranggapan bahwa Tuhan mempunyai kehendak mutlak. Tidak ada yang menghalangi kehendak Tuhan, karena selainNya tidak ada yang mempunyai kehendak. Tuhan mampu berbuat apa saja yang dikehendakiNya dan menentukan segala‑galanya menurut kehendakNya. Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Tuhan, dan tidak ada larangan-larangan bagi Tuhan. (Al-Jazari, 1192 H.: 127)
Oleh karena itu tidak ada kewajiban bagi Tuhan untuk berbuat jahat, dan tidak ada pula kewajiban bagi-Nya memberi pahala bagi orang yang berbuat baik. Semua yang dikerjakan manusia, baik atau jahat, adalah atas dasar kehendak-Nya semata.
  1. Maturidiyah Samarkand
Dalam masalah kehendak mutlak Tuhan, aliran Maturidi Samarkand mengambil posisi tengah, antara golongan Mu’tazilah dan golongan Asy’ariyah. Hal-hal yang mereka pegangi sebagai batas kehendak mutlak Tuhan, antara lain:
Kemerdekaan dalam kemauan dan perbuatan yang menurut pendapat mereka ada  pada manusia.
Keadaan Tuhan menjatuhkan hukuman bukan sewenang-wenang, tetapi                berdasarkan atas kemerdekaan manusia atas dirinya untuk berbuat baik atau jahat.
Keadaan hukuman-hukuman Tuhan, sebagai kata al-Bayadi, tidak boleh tidak mesti terjadi. (Nasution, 1986: 122)
Walaupun golongan ini mengidentifikasikan adanya kemerdekaan dan kemauan pada manusia, bukan berarti sama sekali menafikan kehendak Tuhan dalam diri manusia. Tuhan masih juga ikut campur tangan dalam menentukan perbuatan manusia, yaitu dengan menciptakan daya yang terkandung dalam diri manusia. Untuk apa daya yang dikandungnya itu dipergunakan, itulah wujud kehendak manusia. Seperti memilih yang baik dan yang buruk. Dengan kata lain kebebasan kehendak manusia hanya merupakan kebebasan memilih antara yang disukai dan yang tidak disukai oleh Tuhan. (Nasution, 1986: 123)

B. KEADILAN TUHAN

Masalah keadilan Tuhan ini juga dibahas oleh aliran-aliran tersebut di atas, yang secara rinci adalah:
  1. Mu’tazilah
Bagi Mu’tazilah, sebagai yang diterangkan oleh Abd. Al-Jabbar, keadilan erat hubungannya dengan hak, dan keadilan diartikan memberi seseorang akan haknya. Kata-kata “Tuhan Adil” mengandung arti bahwa Ia tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajibanNya terhadap manusia. (Yunan Yusuf, 1990: 66)
Dari pengertian ini dapat dinyatakan, bahwa konsep keadilan Tuhan menurut Mu’tazilah adalah bermuara pada kepentingan manusia. Kalau pemikiran ini mengharuskan ketidakbolehan sifat dhalim dalam menghukum, memberi beban-beban yang tidak terpikul dan upah pahala kepada orang yang tidak patuh, bagi Allah. Dengan demikian Mu’tazilah memandang, bahwa Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban yang ditentukan sendiri buat diriNya.
Ayat‑ayat Al-Quran yang dijadikan sandaran dalam memperkuat pendapat Mu’tazilah di atas adalah ayat 47 surat Al-Anbiya’, ayat 64 surat Yaasin, ayat 46 surat Fush‑shilat, ayat 40 surat An-Nisa’ dan ayat 49 surat Al-Kahfi. (Yunan Yusuf, 1990: 72)
  1. Asy’ariyah
Keadilan menurut Asy’ariyah berarti menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya, yaitu pemilik mempunyai kekuatan mutlak terhadap harta yang dimiliki serta mempergunakannya sesuai dengan kehendak dan pengetahuan pemilik. Keadilan Tuhan mengandung arti, bahwa Tuhan mempunyai kekuatan mutlak terhadap makhlukNya dan dapat berbuat sekehendak hatiNya dalam kerajaanNya. (Nasution, 1986: 125)
Dalam hal ini tidak ditemukan secara khusus ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh Asyariyah. Sebab paham keadilan Tuhan dalam pandangan Asy-ariyah lebih menitikberatkan pada makna kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, sehingga ayat-ayat yang sering dipakai untuk menopang paham keadilan Tuhan ini adalah ayat-ayat yang juga dipergunakan untuk memperkuat pandangan tentang kedudukan dan kehendak mutlak Tuhan. (Yunan Yusuf, 1990: 33)
  1. Maturidiyah Bukhara
Maturidiyah Bukhara’ berpendapat, bahwa keadilan Tuhan harus dipahami dalam kontek kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Secara jelas Al-Bazdawi menyatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai tujuan dan tidak mempunyai unsur pendorong untuk menciptakan kosmos. Tuhan berbuat sekehendakNya sendiri. (Nasution, 1986:  124)
Dengan demikian posisi aliran Maturidyah Bukhara dalam menginterpretasikan keadilan Tuhan adalah lebih dekat pada aliran Asy’ariyah. Masalah dalil yang dipakai pun sama.
  1. Maturidiyah Samarkand
Aliran Maturidiyah Samarkand menggarisbawahi makna keadilan Tuhan sebagai lawan dari perbuatan dhalim Tuhan terhadap manusia. Tuhan tidak akan membalas kejahatan kecuali dengan balasan yang seimbang dengan kejahatan itu. Tuhan tidak akan menganiaya hamba-hambaNya dan juga tak akan mengingkari janji-janjiNya yang telah disampaikan kepada manusia. (Yunan Yusuf, 1990: 82).Aliran Maturidiyah golongan Samarkand, karena menganut paham free will dan free act serta adanya batasan bagi kekuasaan mutlak Tuhan, dalam hal ini mempunyai posisi yang dekat dengan aliran Mu’tazilah ketimbang aliran Asy’ariyah. Tetapi tendensi golongan ini untuk meninjau wujud dari kepentingan manusia melebihi dari tendensi kaum Mu’tazilah. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kekuatan yang diberikan alairan Samarkand kepada akal serta batasan yang mereka berikan kepada kekuasaan Tuhan, lebih kecil dari yang diberikan kaum Mu’tazilah. (Nasution, 1986:  24)
Abu Mansur al-Maturidi berdalil atas pandangan di atas dengan firman Allah Q.S. Al-An’am, 6: 160 Q.S. Ali ‘Imran, 3: 9)
Ayat pertama ditafsirkan al-Maturidi dengan mengatakan bahwa Allah tidak membalas perbuatan jahat seseorang, kecuali dengan balasan yang setimpal dengan perbuatan jahatnya itu. Dan Allah tidak menyalahi janjiNya serta menganiaya hambaNya, lanjut al-Maturidi dalam memberi tafsiran ayat yang kedua. (Yunan Yusuf, 1990: 10)

   
BAB III
PENUTUP




Kesimpulan

Pertama. Kehendak Tuhan dipahami oleh aliran Mu’tazilah sebagai kehendak yang tidak mutlak semutlak‑mutlaknya namun dibatasi oleh free will dan free act manusia, keadilan Tuhan, kewajiban Tuhan kepada manusia dan kausalitas sunnatullah. Konsep pemahaman tersebut dalam banyak hal searah dengan yang disampaikan oleh aliran Maturidiyah Samarkand. Sedangkan oleh aliran Asy’ariyah, kehendak Tuhan ini dipahami sebagai kehendak mutlak dan absolut dalam semua hal. Konsep pemahaman tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh aliran Maturidiyah Bukhara.
Kedua. Keadilan Tuhan oleh aliran Mu’tazilah dipahami sebagai sesuatu yang terpusat pada kepentingan manusia. Tuhan tidak dapat mengabaikan pada kewajiban‑kewajiban terhadap manusia. Sedangkan oleh aliran Asy’ariyah dipahami sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Interpretasinya tetap berorientasi pada absolutisme kehendak dan kekuasaan Allah. Aliran Maturidiyah Bukhara dalam hal ini serupa dengan pemahaman Asy’ariyah. Sedang aliran Maturidiyah Samarkand mengutamakan pengertian keadilan Tuhan sebagai lawan perbuatan zalim.
  
DAFTAR PUSTAKA


Al-Jazairi, Abdurrahman, Taudhih al-’Aqaid fi ‘Ilmi at-Tauhid, Kairo: Maktabah al-Hadharah asy-Syarqiyyah, 1192.
Nasution, Harun., Falsafat Agama., Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
——, Akal dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta: UI Press, 1986.
——, Teologi Islam, Jakarta: UI Press, 1986.
Makki, Husein Abdurrahman., Mudzakarah al-Tauhid, Mesir: t.p., 1952.
Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990.